Taruhan
Pada sebuah kelas, Silbi dikenal sebagai siswa yang berprestasi, cerdas dan disiplin. Dia disayangi oleh semua teman-temannya, terutama lagi oleh wali kelasnya. Tidak heran kalau dirinya ditetapkan sebagai ketua kelas.
Sampai suatu ketika, wali kelas memperkenalkan siswa baru, yang katanya lebih pintar dari seluruh siswa di kelas itu. Dan memang ketika dibuktikan, siswa baru yang bernama Mada tersebut lebih cerdas dari semua siswa lain. Bahkan dengan mantap, wali kelas menetapkan Mada sebagai ketua kelas.
Silbi yang merasa diturunkan secara sepihak, menentang keputusan tersebut. Terjadilah debat panjang antara dirinya dan wali kelas, terlebih karena Silbi tidak terima kalau Mada disebut lebih cerdas darinya.
Akhirnya diambil kesepakatan untuk bertaruh:
Sampai suatu ketika, wali kelas memperkenalkan siswa baru, yang katanya lebih pintar dari seluruh siswa di kelas itu. Dan memang ketika dibuktikan, siswa baru yang bernama Mada tersebut lebih cerdas dari semua siswa lain. Bahkan dengan mantap, wali kelas menetapkan Mada sebagai ketua kelas.
Silbi yang merasa diturunkan secara sepihak, menentang keputusan tersebut. Terjadilah debat panjang antara dirinya dan wali kelas, terlebih karena Silbi tidak terima kalau Mada disebut lebih cerdas darinya.
Akhirnya diambil kesepakatan untuk bertaruh:
Dengan tanpa melakukan intimidasi secara fisik, siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan dari siswa sekelas, apakah wali kelas, ataukah Silbi?
Hasil akhir dihitung nanti pada akhir tahun. Siswa yang pro ke wali kelas akan mendapatkan bonus nilai dari wali kelas. Yang pro ke Silbi, siap-siap mendapatkan hukuman nantinya.
Dan taruhan pun dilaksanakan.
Siswa kemudian terpecah menjadi beberapa jenis:
- Pro ke Silbi, dengan berbagai dalih, ataupun karena bujukan Silbi.
- Pro ke wali kelas demi bonus nilai.
- Pro ke wali kelas, karena takut hukuman di akhir tahun.
- Siswa yang berorientasi pada pelajaran, yang tidak peduli dengan taruhan itu, tidak peduli dengan bonus nilai atau hukuman. Niatnya datang ke sekolah adalah untuk belajar.
- Dia pro ke wali kelas, karena percaya pada keputusan wali kelas.
Dan masih ada beberapa jenis siswa yang lain.
Kalau anda sebagai siswa, mungkin anda adalah jenis #2 atau #3 ;;)Â
Ada 10 komentar
maksudnya apa sih, om?
gak paham ni ama ceritanya
hehehe...
maklum, masih anak-anak! :P
Aryo:
Balas Komentar Inicukup mengecewakan untuk seukuran penggemar novel-novel misteri
*kabur*
kenalin.. saya mada.
ada yg protes?
>:/
Aryo: hint: silbi = iblis, mada = adam
Balas Komentar Inisaya wali kelasnya!
Balas Komentar Inihiiiy takut..
*kabur nae tigi*
eh btw. pak manademen kmana aja siy pak?
Aryo:
Balas Komentar Iniya kemana-mana. sampai jumpa di kopdar berikutnya ;))
wali kelasnya otoriter yach...?
Aryo: Wali kelas berkuasa >:)
Balas Komentar IniTunggu aja 1 Tahun Kemudian......
Aryo:
Balas Komentar Inibukan 1 Tahun kemudian, tapi Akhir Tahun. Emangnya kapan tahun akan berakhir? ;))
hus... ndak bole itu main2 taruhan
kalo ketahuan wali kelas, bisa dimarahin
Aryo: spidriding ya? justru yang taruhan itu Wali kelas sama Silbi
Balas Komentar Inibubar...bubar...
Balas Komentar Iniada satpol PP :)
hmm. menakutkan ya .. sama ketika baca Iblis menggugat Tuhan
Balas Komentar Iniapun juragan... gak berani jawab
gurunya misused kekuasaan. maha tidak adil... ya gimana lagi maha segalanya siy...
Aryo:
definsi misused dan tidak adil itu sangat relatif dan menjadi tidak relevan lagi kalo dihubungkan dengan kekuasaan yang maha.
kita tidak tau sejauh mana pertimbanganNya, pengetahuanNya, kok sampai mengatakan itu tidak adil?
Inilah tidak adilnya, karena kita tidak tau batasan adil itu sendiri. *bingung* :D
Balas Komentar Ini